Jl. Jend. Sudirman Timur No. 50

Telp./Fax. (0285) 321542 PEMALANG - JAWA TENGAH - INDONESIA
Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Kenaikan Harga Sembako Pasar Comal Pemalang Dinilai Masih Normal

COMAL - Sudah menjadi hal yang lumrah kiranya jika diawal permulaan bulan ramadhan harga beberapa bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Sama kejadian dengan bulan ramadhan sebelumnya untuk harga beberapa bahan kebutuhan pokok kali ini ada yang sudah mengalami kenaikan, namun kenaikan harga barang-barang sembako kali ini dinilai beberapa kalangan masih dalam taraf kewajaran.

Pasalnya belum semua barang-barang kebutuhan pokok dipasar mengalami kenaikan secara keseluruhan.Sebut saja bahan-bahan kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan seperti ; Telor dari Rp. 16.000/Kg naik menjadi Rp. 20.000/Kg, Cabe dari Rp. 12.000/Kg naik menjadi Rp. 18.000/Kg, Gula dari Rp. 11.500/Kg naik menjadi Rp. 12.500/Kg.

“Namun kenaikan haga tersebut belum diikuti dengan kenaikan bahan-bahan pokok lainya seperti beras, minyak, sayur mayur, dan beberapa bahan kebutuhan pokok lainnya. Sehingga kenaikan sebagian bahan-bahan pokok diatas dinilai wajar oleh beberapa kalangan.

M. Kholil selaku pejabat yang dimandat untuk memonitor Pasar Comal menuturkan bahwa lonjakan harga bahan kebutuhan pokok biasanya akan terjadi pada kurun waktu mendekati lebaran. Namun sampai saat ini kenaikan  beberapa bahan kebutuhan pokok di pasar Comal Kabupaten Pemalang pun menurutnya belum mampu mempengaruhi daya beli masyarakat. Karena harga beberapa bahan kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan  prosentasenya masih tergolong normal. “Sudah hal yang lumrah jika tiap bulan ramadhan dan lebaran lonjakan harga kebutuhan pokok terjadi” tandasnya.

“Hal senada juga diungkapkan oleh Heri, pegawai Pasar Comal yang bertugas langsung menarik retribusi dilapak – lapak pedagang pun mengatakan bahwa naiknya beberapa bahan kebutuhan pokok kali ini masih normal – normal saja karena belum terlihat begitu tinggi persentasenya. “saya kira untuk kenaikan harga yang terjadi pada awal ramadhan kali ini masih biasa – biasa saja” pungkasnya.

Sumber : Warta Pantura

Stok Terbatas, Harga Cabai Melonjak

PEMALANG - Setelah mengalami penurunan di akhir Mei lalu, sekarang harga mayoritas komoditas sayuran di pasar Pagi Pemalang kembali naik. Terutama beragam jenis cabai yang semuanya mengalami kenaikan harga hingga 100%. Khususnya cabai rawit merah yang biasanya dijual sehargaRp10.000/kg, kini menjadi Rp24.000/kg.

Pantauan di pasar tradisional, cabai rawit merah adalah yang paling tinggi mengalami kenaikan, hal inilah yang menyebabkan beberapa pedagang cabai di pasar tradisional Pemalang resah, mengingat komoditas ini lebih banyak diminati masyarakat, terlebih para pedagang makanan. “Sudah satu pekan ini harga cabai naik, yang awalnya Rp10.000/kg kini naik menjadi Rp24.000/kg” Ujar Sumiyati Penjual cabai yang berdagang di Pasar Pagi Pemalang.

Senada disampaikan Supriyono (45), pedagang lain di pasar yang sama bahwa selain harga cabai yang naik, kenaikan juga terjadi pada harga bawang puith. Dimana bawang putih sebelumnya harga perkilogramnya Rp8000 kini naik menjadi Rp10.000/kg. “Padahal, untuk daya beli saat ini masih stabil bahkan cenderung mlempem. Masing-masing jenis sayuran terjual berkisar 7-8 kg per hari dari stok yang ada sebanyak 10 kg. Tapi kenapa harganya naik?” terangnya.

Sementara itu, secara terpisah Bambang Hardianto selaku Kasi Distribusi dan Perlindungan Konsumen kepada wartapantura.com mengatakan bahwa kenaikan yang terjadi pada jenis sayuran seperti bawang putih ataupun cabai rawit merah di karenakan karena pengiriman barang-barang yang terlambat kepasar. “Memang sudah seminggu ini harga cabai rawit merah dan bawang putih mengalami kenaikan. Itu karena katerlambatan pengiriman barang-barang ke pasar. Jadi asumsi pasar menganggap barang itu mengalami kelangkaan sehingga harganya menjadi naik” jelasnya saat di konfirmasi.

Namun hal itu dibantah oleh hampir rata-rata para pedagang  yang berada di pasar Pagi Pemalang tersebut. Menurut para pedagang, biasanya ketika ada kenaikan mereka mengetahui apa penyebab harga naik, mungkin karena faktor cuaca buruk, atau menjelang lebaran. Akan tetapi kenaikan tersebut belum diketahui oleh para pedagang. “Biasanya kalau naik itu karena beberapa faktor mas. Biasanya karena faktor cuaca yang buruk membuat hasil panen kurang atau mungkin karena permintaan yang banyak seperti menjelang lebaran. Tapi ini kan tidak” keluhnya.

Sumber :   Warta Pantura

Kadar Garam Murni Sesuai Standar Nasional

PEMALANG – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pemalang Hajjah Irna Junaedi gencar melakukan sosialasi garam beryodium merk Murni hasil produksinya kepada masyarakat  di sejumlah pasar-pasar tradisional yang ada di wilayah Kabupaten Pemalang.

Sosialisasi garam ini dikemas dalam kegiatan grebeg pasar di Pasar Paduraksa wilayah Kecamatan Pemalang. Hadir dalam kegiatan itu  Kepala Diskoperindag Tri Setyawati SIP MSi, istri Sekda Diah Widiharti, Camat Pemalang Syaifudin HambaliSH MSi, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Pemalang Emy Syaifudin, Muspika dan Kepala  Pasar, sejumlah dinas dan instansi serta jajaran Kelurahan Paduraksa, warga setempat dan sejumlah anggota Forum Pemalang Sehat.

Dalam kegiatan grebeg pasar, sebelumnya oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pemalang Hj Irna Junaedi berkeliling pasar untuk melakukan sosialisasi garam beryodium dengan membagi-bagikan garam merk Murni kepada warga dan para pengujung Pasar Paduraksa.

Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penanaman pohon di lingkungan pasar secara bersama-sama sebagai upaya untuk menciptakan pasar yang bersih dan sehat. Juga dilanjutkan dengan uji tester kadar garam beryodium yang ada di pasar yang tujuannya agar masyarakat mengetahui kandungan yodium yang pada garam- garam merk lain di pasar. Dan kegiatan cuci tangan pakai sabun yang dilakukan dalam bentuk lomba dan penyerahan alat dan kelengkapan kebersihan kepada Kepala Pasar setempat.

Ketua Tim Penggerak PPK Kabupaten Pemalang Hajjah Irna Junaedi mengatakan kegiatan grebeg pasar ini selain untuk menyosialisasikan garam beryodium merk Murni juga untuk silaturahmi dengan warga masyarakat khususnya yang ada di Pasar Paduraksa.

Menurutnya, garam beryodium merk Murni ini memiliki kadar sesuai standar nasional yaitu 50,58 PPM diatas garam-garam merk lain yang dijual di pasar-pasar. Sebab, berdasarkan uji tes kadar yodiumnya yang baru disaja disaksikan bersama bahwa kandungan yodium merk lain ada yang hanya 8 PPM dan ada juga yang 15,27 PPM.

Padahal sesuai standar itu antara 30 hingga 80 PPM. Dengan dibuktikannya kandungan yodium yang ada pada garam-garam merk lain yang jauh dibawah standar maka warga yang telah menggunakan garam tersebut ternyata selama ini telah dibohongi. Sehingga Irna mengajak kepada seluruh warga untuk bisa menggunakan garam merk Murni, yang harganya tidak bea jauh dengan merk garam lain.

“Kurangnya kandungan yodium pada garam tentunya akan berakibat pada kesehatan pada tubuh yaitu akan menyebabkan terkena penyakit gondok. Makanya warga jangan sampai terpengaruh dengan garam harga murah,” katanya.

Sebab lanjut Irna, jika warga masih menggunakan garam yang tidak beryodium dan hanya karena harga murah maka akan mempertaruhkan kesehatan anggota keluarganya. Oleh karena itu dengan kegiatan sosialisasi garam beryodium ini sebagai salah satu bentuk dan wujud untuk menciptakan Pemalang yang sehat sesuai visi misi Kabupaten Pemalang yaitu Pemalang  yang sehat, cerdas, berdaya saing dan berakhlak mulia.

Kepala Diskoperindag Kabupaten Pemalang Tri Setyawati SIP MSi menambahkan dalam rangka untuk mewujudkan visi Bupati Pemalang utamanya visi berdaya, pihaknya mengajak warga bersama-sama untuk mendukungnya yaitu mewujudkan Pasar

Paduraksa yang sehat dan bersih, aman serta nyaman dan berkeadilan. Seperti salah satunya petugas parkir untuk tetap menjaga keamanan lingkungan pasar utamanya menjaga  keamanan kendaraan.

Selain itu warga juga untuk ikut menjaga kebersihan jangan membuang sampah sembarangan. Sebab, untuk menjaga kebersihan harus dimulai dari sekarang pada diri masing-masing. Oleh karena itu baik pedagang maupun pembeli untuk ikut menciptakan pasar yang sehat dan bersih, aman, nyaman serta berkeadilan.

“Apalagi Kabupaten Pemalang ini sudah menjadi salah satu kabupaten yang akan dijadikan sebagai kabupaten sehat oleh Propinsi Jawa Tengah makanya mulai sekarang pasar itu harus bersih dan sehat. Sebab jika tidak maka saya yakin nanti tidak akan tercipta Pemalang yang sehat,” paparnya.

Sumber :  Radar Tegal 


Pasar Pagi Calon Pasar Sehat Pemalang

PEMALANG – Pasar tradisional terbesar di Kabupaten Pemalang, yakni Pasar Pagi yang berlokasi di lingkungan RW 2 Kelurahan Mulyoharjo, saat ini dicanangkan menjadi pasar sehat. Persiapan untuk menjadi pasar sehat sudah mulai dilakukan oleh instansi terkait, baik Diskoperindag maupun Dinkes Pemalang.

Keberadaan Pasar Pagi, menurut Kabid Promosi Kesehatan dan Penyehatan Lingkungan (PKPL) Dinkes, Akhmad Sarifudin, SKM, perlu dilakukan pembenahan agar bisa memenuhi kriteria pasar sehat.

“Selain harus dibenahi masih banyak sarana pendukung yang harus dirapikan serta ditata agar kondisi lingkungannya sehat,” jelas dia di sela kunjungannya ke Pasar Pagi, Jumat (2/3/2012).


Pada kunjungan ke dalam kompleks pasar, Akhmad Sarifudin menyaksikan dari dekat sarana fisik bangunan maupun sarana penunjang yang kondisinya sudah rusak. Misalnya saja sarana pembuangan air atau drainase yang mampet dan menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi tersebut sangat mengganggu ketenangan para pedagang. Bahkan bisa menimbulkan penyakit karena got yang mampet bisa menjadi sarang nyamuk.Salah satu sarana umum yang harus diperhatikan kebersihannya adalah Mandi Cuci Kakus (MCK). Di lingkungan Pasar Pagi terdapat sejumlah MCK yang kondisinya sangat kurang higienis.

“Tolong disediakan tempat sampah agar tidak berceceran,” saran dia kepada salah seorang penjaga MCK di sudut timur kompleks pasar.

Menurut Sarifudin, penyelenggaraan pasar sehat merupakan tugas bersama antara Tim Penggerak PKK Kabupaten Pemalang, instansi terkait dan berkolaborasi dengan Forum Pemalang Sehat (FPS). Sehingga tidak mungkin untuk dilaksanakan jajaran kesehatan atau Diskoperindag saja. Tetapi kita bekerjasama untuk mewujudkan sebuah pasar yang benar-benar sehat sehingga nilai manfaatnya bisa dirasakan masyarakat.

“Dasar pelaksanaan program pasar sehat adalah Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 519/Menkes/SK/VI/2008,” pungkasnya.

Sumber :  Radar Pemalang

Harga Beras Naik Akibat Petani Gagal Panen

Harga beras di sejumlah pasar Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak sepekan terakhir ini naik sekitar Rp500 sampai Rp700 per kilogram menyusul sebagian petani setempat mengalami gagal panen akibat tanaman padi tergenang banjir.

"Selain harga naik, pasokan beras juga tersendat bahkan stok di sejumlah penggilingan padi sering kosong," kata salah seorang pedagang beras di Pasar Pagi Pemalang, Ripto.

Menurut dia, sejak awal Januari 2012, harga beras terus mengalami kenaikan karena sejumlah wilayah penghasil beras di Pemalang, seperti Kecamatan Petarukan, Bodeh, Randudongkal, Belik, dan Comal tidak panen.

"Bahkan beberapa di antaranya mengalami gagal panen akibat tanaman padi tergenang banjir dan puso," katanya.

Ia menyebutkan, harga beras jenis C4 kualitas sedang, sebelumnya Rp7.300 per kilogram kini naik menjadi Rp7.800 per kilogram, C4 kualitas bagus, pekan lalu Rp7.600 menjadi Rp8.300 per kilogram, sedangkan jenis Membramo dari Rp8.000 naik Rp8.500 per kilogram.

"Sejak dua pekan terakhir sebagian pedagang beras di pasar-pasar tradisional tidak memiliki stok karena pasokan beras dari pemasok lokal maupun luar daerah berkurang," katanya.

Ia mengatakan, jika sebelumnya pedagang bisa mendapat stok beras lima hingga tujuh ton per hari, pada beberapa hari terakhir atau sejak curah hujan semakin tinggi pasokan beras tidak lebih dari tiga ton per hari.

Menurut dia, sekitar awal musim hujan harga beras terus naik namun pasokan masih lancar sehingga para pedagang dapat menyimpan persediaan beras hingga beberapa hari atau pekan berikutnya.

Pedagang beras di Pasar Petarukan, Yoyo (50), mengatakan, harga semua jenis beras terus merangkak naik sehingga para pedagang terpaksa mencari beras ke luar daerah Pemalang karena pasokan beras dari distributor mulai berkurang.

Ia mengatakan, beberapa daerah pemasok beras di Pemalang terutama daerah bagian atas saat ini baru masuk masa tanam sedangkan daerah bagian bawah, seperti Petarukan dan Kecamatan Taman tidak sedikit tanaman padi rusak akibat tergenang banjir.

"Akibat cuaca buruk sejak beberapa pekan terakhir, para pedagang kesulitan mendapat pasokan beras sehingga stok di tingkat pedagang sering kosong," katanya.

Sumber :   Berita Daerah

Harga Sayuran Melambung

PEMALANG -  Harga beberapa jenis sayur di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pemalang, melambung sejak beberapa hari terakhir akibat pasokan dari petani di daerah penghasil sayuran berkurang.

“Harga beberapa jenis sayur seperti kol, wortel, daun bawang, cabai, dan tomat mengalami kenaikan sejak satu pekan terakhir bahkan harga tomat naik hingga 50 persen,” kata salah satu pedagang sayuran, Atun (43), di Pemalang, Minggu (11/12).

Pedagang sayuran di Pasar Pagi tersebut mengatakan, harga tomat pekan lalu Rp5.500-Rp6.000 per kilogram, bahkan di tingkat pedagang grosiran harganya berkisar Rp4.500-Rp5.000 per kilogram namun sekarang naik menjadi Rp10.000-Rp11.000 per kilogram.


Selain harga tomat, kata dia, harga kol sebelumnya Rp3.500 sekarang Rp5.000 per kilogram, wortel pekan lalu Rp4.000 menjadi Rp7.000 per kilogram, cabai rawit Rp21.000 per kilogram naik menjadi Rp22.000 per kilogram, cabai merah sebelumnya Rp23.000 sekarang Rp24.000 per kilogram. “Jenis sayuran yang mengalami kenaikan harga sebagian besar merupakan sayuran yang berasal dari daerah atas atau kawasan pegunungan,” katanya.

Ia mengatakan, selain harga naik sejak beberapa hari terakhir pasokan juga mengalami penurunan sehingga pedagang kesulitan memenuhi permintaan pembeli. Biasanya mendapat pasokan berbagai jenis sayuran rutin setiap hari minimal 10 ton kol, lima ton wortel, tiga ton cabai rawit dan merah, serta lima ton tomat, namun sepekan terakhir pasokan berkurang antara 60-70 persen sehingga mempenmgaruhi harga jual.

Sementara itu, pedagang sayur lainnya di Pasar Comal Pemalang, Fatimah (50), mengaku kekurangan pasokan sayuran sejak beberapa hari terakhir sehingga terpaksa menaikan harga berbagai jenis sayuran. Ia mengatakan, biasanya setiap hari mendapat kiriman bermacam jenis sayur dari daerah lereng Gunung Slamet seperti Kecamatan Belik, Pulosari, dan Randudongkal Kabupaten Pemalang, namun sejak sepekan terakhir pengiriman berkurang.  “Pengiriman sayuran setiap hari masih lancar namun berkurang, mungkin karena di daerah atas sering turun hujan sehingga panen dan proses pengiriman terganggu,” katanya.

Sumber :   Jateng News

Belanja Baju Bekas

PEMALANG - Penjualan pakaian bekas di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, laris manis karena harganya murah dan tersedia beragam model, sehingga banyak diminati warga terutama warga kurang mampu.

Harga pakaian bekas tersebut paling murah Rp3 ribu per potong, sementara paling mahal Rp15 ribu per potong," kata seorang pedagang pakaian bekas di Pasar Comal Pemalang, Unah (53), di Pemalang, Selasa (30/8).


Ia mengatakan, penjualan beragam model pakaian bekas tersebut laris manis menjelang Lebaran seperti saat ini terutama pakaian ukuran orang dewasa, seperti celana panjang dan rok. Ia mengatakan, harga masing-masing pakaian tidak sama tergantung bahan, kebersihan kain, dan kelusuhan pakaian bekas.

Menjelang Lebaran, katanya, penjualan meningkat lebih dari 100 persen, karena para warga kurang mampu yang tidak mampu membeli pakaian baru di toko atau pasar akan memburu pakaian bekas yang harganya terjangkau kantong mereka dan layak dikenakan untuk berlebaran. 

Pada hari biasa, katanya, sehari rata-rata terjual 10 potong pakaian bekas, tetapi menjelang Lebaran penjualan mencapai lebih dari 30 potong per hari. "Sebagian pembeli adalah para buruh tani, penarik becak, buruh serabutan, dan warga kurang mampu lainnya," katanya.

Sumber :   Media Indonesia

Buah Impor Tak Pengaruhi Produk Lokal





PEMALANG - Pasokan bermacam buah impor, seperti apel, anggur, jeruk dari sejumlah negara Asia dan Amerika Serikat ke Pasar Buah dan Sayur Pemalang, tidak memengaruhi omzet penjulan buah lokal. Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Buah dan Sayur Pemalang, Cari Antoni, di Pemalang, Minggu, mengatakan, pasokan buah dari berbagai daerah ke Pemalang semakin meningkat, kendati buah impor dari sejumlah negara seperti Thailand, China, AS, dan negara tetangga lainnya juga mengalir ke Pemalang.

“Meskipun pasokan buah impor melimpah, penjualan buah lokal tidak berkurang, bahkan penjulannya meningkat dibanding buah impor, sehingga harga buah impor dari pemasok untuk beberapa jenis buah rata-rata mengalami penurunan sejak dua-satu bulan terakhir,” katanya tadi.

Ia mengatakan, untuk buah kelengkeng bangkok dari Thailand harga sebelumnya mencapai Rp200.000-Rp210.000 per karton, kini turun menjadi Rp150.000-Rp160.000 per karton, anggur chili dari China dari Rp240.000 menjadi Rp210.000 per karton.

Selain itu, kata dia, buah impor lainnya rata-rata juga mengalami penurunan, antara lain untuk harga buah apel China Rp190.000 per karton, apel Amerika Rp275.000 per karton, pir madu dari China Rp145.000-Rp185.000 per karton, durian bangkok Rp320.000-Rp350.000 per karton.

“Harga buah lokal hanya terpaut tidak lebih dari 25 persen lebih murah dari buah impor sehingga penjualan buah impor sementara ini turun, bila dalam keadaan sepi pembeli bisa mencapai satu sampai dua pekan baru habis, namun untuk buah lokal paling lama satu pekan sudah habis, ” katanya.

Menurut dia, penurunan harga buah dan penjualan buah impor kemungkinan akibat beberapa bulan terakhir pasokan buah lokal membludak karena karena sejumlah daerah penghasil mangga, jeruk, salak, jambu, dan buah lainnya sedang masa panen raya sehingga kiriman berlimpah dan harga lebih murah.

“Bulan ini petani durian Banjarnegara sedang panen raya sampai menjelang lebaran lusa, sehingga selain memasok ke pasar-pasar tradisional dan pasar pusat buah, pedagang buah musiman juga menggelar durian di pinggir jalan dengan harga lebih murah dibanding durian impor, untuk ukuran kecil Rp10.000 per buah, sedangkan ukuran besar antara Rp35.000 sampai Rp75.000 per buah,” katanya.

Selain buah durian, kata dia, pasokan jeruk pontianak juga berlimpah, mulai dari jeruk pontianak tipe AB seharga Rp190.000 per peti, tipe C Rp170.000 per peti, tipe D Rp145.000 per peti, dan tipe E Rp120.000 per peti, sedangkan jeruk impor berkisar antara Rp150.000-Rp220.000 per karto tergantung jenis dan kualitas buah.

Sementara itu, salah seorang pembeli di Pasar Buah dan Sayur Pemalang, Musrofi (50), mengaku lebih memilih buah lokal daripada buah impor karena kualitas serta rasanya lebih enak buah lokal, selain itu buah lokal juga lebih awet atau tidak cepat membusuk.

“Buah jeruk lokal kadar airnya banyak dan rasanya manis campur asam, kalau jeruk impor memang rasanya manis tapi kurang seger karena tidak ada airnya, selain itu harga buah lokal saat ini juga lebih murah dibanding buah impor,” katanya.


Sumber :   Bisnis Jateng


Musim Okmar di Pemalang Harga Beras Stabil


PEMALANG - Harga beras di tingkat eceran di kota Pemalang, Jawa Tengah, sejak pungkasan bulan Syawal lalu relatif stabil meski musim panen periode Oktober-Maret (Okmar) tidak serentak.

Beras standar yang paling dicari konsumen adalah jenis C-4 yang terbagi dalam 3 kualitas. Harga per kilogramnya adalah Rp 6.600,- - Rp 6.700,- untuk kualitas A, Rp 6.500,- - Rp 6.600,- kualitas B dan Rp 6.400,- - Rp 6.400,- kualitas C. Jenis beras terakhir atau kualitas C sebagian berasal dari kawasan persawahan di wilayah pegunungan Pemalang Selatan. Selisih harga setiap kategori tergantung kondisi beras, namun biasanya hanya berkisar antara Rp 100,- hingga Rp 200,-.

“Selisihnya tidak seberapa banyak, paling hanya seratus duaratus saja tiap kilonya, dan itu biasanya untuk beberapa jenis beras,” tutur Darmanto (55) pedagang beras yang mengelola kios Citarum di bilangan Kaligempol kota Pemalang, Minggu siang 21 Nopember 2010.

Menurut dia, kenaikan harga yang terjadi belakangan ini disinyalir karena semakin stabilnya harga gabah petani pada waktu panen. “Jadi harga beras sejak bulan Maulud lalu sudah mulai naik karena harga gabahnya juga naik,” katanya.

Beras jenis C-4 relatih banyak diburu konsumen karena harganya lebih miring dibanding jenis lainnya seperti Membramo, Pandanwangi dan Rajalele. Di beberapa kios sembako di kota Pemalang maupun ibukota Kecamatan Comal dan Petarukan, beras jenis Membramo dijual eceran Rp 7.100,- per kilogram. Jenis Pandanwangi sedikit lebih tinggi, Rp 7.300,- hingga Rp 7.500,-, sedangkan Rajalele Rp 8.000,-/Kg.

Dengan harga di tingkat eceran yang ada saat ini bisa dikatakan kenaikan harga yang ada tidaklah signifikan dan dinilai wajar karena harga gabah kering panen (GKP) milik petani juga mengalami kenaikan. Dari kalangan petani diperoleh informasi rata-rata berharap kestabilan harga eceran bertahan agak lama. “Kalau bisa sampai musim panen depan lagi masih stabil, jadi beras yang dibutuhkan masyarakat harganya terjangkau,” ungkap Warjiun (47) buruh tani di wilayah Taman. Dari kalangan pedagang tebasan didengar harapan senada, harga gabah stabil sehingga bisa mendapatkan keuntungan untuk upay payahnya.


Sumber :  Tribun News

Kios Lama Pasar Pagi Pemalang Akhirnya Dibongkar

Keinginan eks pedagang kios lama Pasar Pagi di blok yang dikenal dengan sebutan SPN, hampir terwujud.

Janji instansi terkait untuk mengijinkan dimulainya pembangunan pada Bulan Juni 2010 juga terealisir. Kamis (27/5) sejumlah pedagang mulai membongkar sendiri bagian-bagian kiosnya.

Bangunan lama kios tersebut kondisinya memang sudah tidak layak lagi. Pada bagian atapnya banyak yang rusak. Sedangkan bagian pagarnya sudah tidak sedap lagi ditatap karena sudah lapuk. Kios-kios tersebut semula dipakai untuk berjualan komoditas non sayur dan buah.

Proses pembangunan kembali kios tersebut sudah melalui beberapa tahapan. Sebelumnya Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) mengundang puluhan pedagang Pasar Pagi Pemalang yang menyewa kios di blok tersebut, pada Bulan Maret yang lalu.

Kegiatan ini dilakukan untuk memasilitasi para pedagang dalam rangka renovasi kios tersebut. Renovasi ini menggandeng pihak ketiga dan akan dilakukan mulai April, namun baru akan dilakukan sebulan mendatang.

Pejabat Disperindagkop yang menemui para pedagang ini adalah Sekretaris Dinas (Sekdin) Drs Aba Sahmah, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Drs Hepy Priyanto, dan Kabid Pasar Untung Pamungkas SH.

Kabid Perdagangan Drs Hepy Priyanto menjelaskan, kios blok itu tanahnya adalah milik Pemkab Pemalang. Selama ini disewakan ke pedagang dan telah berakhir perjanjiannya sejak tahun 1998. Namun, pemerintah menolerir pedagang untuk tetap menyewa kios tersebut secara bulanan.

Pedagang di blok tersebut jumlahnya adalah 25 orang, dan rencananya dibangun kios ukuran 3,5 x 5 meter dan pengembangnya ditunjuk oleh pedagang.

Sedangkan beberapa pedagang mengemukakan sudah siap dan sanggup menyewa kios dalam keadaan bangunan baru sesuai harga yang ditetapkan oleh pengembang. Harga dari pengembang itu ditentukan oleh konsultan Dinas Pekerjaan Umum sebesar Rp 50 jutaan.

Bangunan Pasar Sayur dan Buah Mulai Rusak


PEMALANG - Sejumlah pedagang Pasar Buah dan Sayur di Jl. Slamet Riyadi Pemalang mengeluhkan kondisi bangunan kios mereka. Beberapa dinding mengalami retak-retak dan bagian dak atap melendut.

Sementara dari keretakan itu diketahui ada rangka bangunan pada bagian pilar yang terbuat dari bilahan bambu. Sejumlah pedagang sudah menyampaikan keluhan ini ke paguyuban mereka.

Di lokasi pasar tersebut ditemui sejumlah kios yang bahkan sudah disangga dengan bambu oleh pemiliknya. Seperti milik H. Yusuf yang sudah disangga dengan dua buah bambu karena atapnya melendut.

Selain itu, di bagian utara beberapa pilar penyangga dak atap juga mengalami rusak. Pada bagian atasnya menyembul bilahan-bilahan bambu yang berfungsi sebagai rangka.

Dak-dak atap yang melendut tidak hanya di satu titik saja, melainkan ada di bagian lain seperti di sebelah selatan pasar bagian depan.

Salah satu pengurus Paguyuban Pegadang Sayur dan Buah, M. Kosim, menjelaskan kondisi bangunan kios pedagangnya. "Kalau retak-retak terjadi sudah sejak lama, dan pengaduan ke paguyuban sudah kerap dilakukan pedagang dan kami sudah menyampaikannya ke pengelola pasar," ujarnya, Jumat (29/10).

Bahkan, lanjut dia, ada pedagang yang nekat menyampaikan kondisi tersebut langsung ke pengelola pasar.
Kosim mengaku tidak mengetahui penyebab rusaknya bangunan. Apakah karena kualitas atau karena cuaca panas yang berlebihan. Sepengetahuannya setiap kali diguyur hujan, selalu terjadi kerusakan, meskipun hujannya hanya sebentar.

Sejumlah pekerja kios buah dan sayur juga mengaku khawatir dengan kondisi kios-kios milik majikannya. "Tentu saja kami kuatir, barangkali tanpa disangka tiba-tiba ambruk," tutur Padi (40), salah satu buruh di pasar tersebut.

Bangunan Pasar Sayur dan Buah selesai dikerjakan pada tahun 2008. Mestinya selesai pada bulan Desember tahun tersebut, namun diketahui molor. Saat itu rekanannya PT Fima Kencana Kertasari beralasan ada redesain pada gambar bangunan.

Beberapa titik yang tidak terdapat pada bestek, tiba-tiba diadakan dengan tujuan untuk memercantik bangunan. Ini terjadi pada pilar-pilar yang akhirnya diketahui tidak menggunakan rangka besi melainkan bilahan bambu yang diikat kawat.

Mengenai kerusakan tersebut sejumlah pejabat yang terkait dengan pengelolaan pasar belum berhasil dikonfirmasi. Sementara rekanan yang mengerjakan proyek pasar sudah meninggal dunia karena sakit beberapa bulan lalu. Sedangkan bangunan tersebut sudah tidak dalam pemeliharaan rekanan karena sudah lebih dari 90 hari sejak bangunan diserahkan ke pemerintah daerah.

Sumber:  Pemalang Post



Belasan Kios di Pemalang Terbakar


PEMALANG - Sedikitnya 18 dari 21 kios di depan Pasar Pagi, Pemalang, Jawa Tengah, Senin (15/3), ludes terbakar.

Petugas pemadam kebakaran berhasil melokalisasi api sehingga si jago merah tidak merembet ke Pasar Induk yang dihuni ratusan pedagang.

Api berhasil dipadamkam oleh satu unit mobil pemadam kebakaran. Tak ada korban jiwa atau cedera dalam kejadian itu. Hingga kini, asal muasal api masih diselidiki Satuan Reserse dan Kriminalitas Kepolisian Resor Pemalang.

Kepala Satreskrim Polres Pemalang Ajun Komisaris Polisi Kamsah Bessy mengatakan, api mulai membara sekitar pukul 04.00 WIB, dari kios nomor empat di deretan sebelah timur. Warga setempat berusaha memadamkan api. Tapi, tidak berhasil karena warung yang terbakar dalam keadaan terkunci.

Api semakin mengganas disusul beberapa kali ledakan. Kuat dugaan, ledakan berasal dari kompor. Si jago merah makin merembet dan baru bisa dipadamkan beberapa jam setelah kejadian.

Kasus pasar terbakar memang sering terjadi. Biasanya, penyebab kebakaran akibat hubungan pendek arus listrik.Februari silam, pasar tradisional di Jombang, Ciputat, Tangerang, Banten, luluh lantak dimakan api.

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 18.30 WIB itu tidak mengakibatkan korban jiwa. Namun dipastikan, sekitar 1.000 kios di pasar tersebut ludes terpanggang api.

Sumber :   Liputan 6



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Diskoperindag Pemalang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger