Jl. Jend. Sudirman Timur No. 50

Telp./Fax. (0285) 321542 PEMALANG - JAWA TENGAH - INDONESIA
Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Dipasarkan Pertengahan Tahun Ini - Mobil Listrik Dibanderol Rp. 75 - 150 Juta

JAKARTA – PT Great Asia Link (Grain) berencana memproduksi mobil listrik bernama Elvi secara massal dan melempar ke pasar pada pertengahan tahun ini.Namun,penggunaan kendaraan tipe ini masih memerlukan keyakinan masyarakat.


Apa kelebihan dan kekurangan mobil listrik? Komisaris PT Grain JE Sendjaja memaparkan kelebihan dan kekurangan dari mobil listrik.“Advantage dan disadvantage ini yang ingin diketahui masyarakat,” ujar Sendjaja di Kantor Kementerian Perindustrian di Jakarta kemarin. Penggunaan energi yang lebih irit karena cukup menggunakan listrik dibandingkan bahan bakar minyak (BBM), hemat energi yang lebih besar dibandingkan penggunaan BBM pada saat kendaraan melaju, dan energi juga lebih irit saat terjadi kemacetan menjadi kelebihan (advantage) kendaraan listrik ini.


Poin plus lainnya: emisi karbon menjadi lebih rendah dan mengurangi polusi dibandingkan penggunaan BBM, hanya kendaraan listrik yang memiliki intelligent transport system (kendaraan bisa melakukan pengereman sendiri jika terjadi tabrakan), perawatan mudah karena tidak memerlukan pergantian oli dan perawatan hanya perlu dilakukan pada baterai. Adapun jarak tempuh terbatas karena penggunaan baterai.

Jadi, kemampuan jarak tempuh yang baru mencapai 120 km menjadi kekurangan mobil listrik ini. Selain itu, bentuk baterai yang besar akan memengaruhi daya gerak kendaraan, waktu pengisian energi berupa baterai cukup lama, yakni 6 jam, dan harga baterai mahal. “Kita melihat pemerintah melalui Kementerian Perindustrian siap mendukung supaya produk kami laku dan diterima masyarakat,” imbuh Sendjaja.


Sebagai langkah awal, PT Grain bakal memproduksi empat tipe mobil yang dibanderol dengan harga Rp75 juta hingga Rp170 juta. Direktur Utama PT Grain, Ravi Desai, mengatakan, mobil yang akan ditawarkan masing- masing city car,multi-purpose vehicle(MPV),sport utility vehicle(SUV),dan pikap. “Harganya berkisar dari Rp75 juta untuk pikap, Rp150 juta untuk SUV, Rp130 juta untuk MPV hingga mobil sport akan kita banderol seharga Rp150 juta,” ujar Ravi di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, untuk tiap jenis mobil tersebut akan dipasarkan masing-masing 100 unit di Pulau Jawa.Ini lantaran perakitan mobil masih berpusat di Pulau Jawa. “Untuk tahap awal kita lakukan penjualan hanya untuk Pulau Jawa saja dulu sambil menunggu perizinan yang lain,”ucapnya. Sendjaja menambahkan, kapasitas produksi bisa mencapai 20.000 unit kendaraan dalam setahun.


Seperti diketahui, mobil ini merupakan produksi nasional karena memanfaatkan komponen lokal 40%, sisanya memanfaatkan komponen impor. Sementara Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Dharmadi menilai produksi mobil listrik PT Grain diharapkan mampu menyerap tenaga kerja dan mampu mengembangkan industri automotif nasional.




Sumber :  Seputar Indonesia

Dahlan : Mobil Listrik Harus Terus Diproduksi

MAGETAN - Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan rencana pemerintah untuk memproduksi mobil listrik sebagai mobil nasional harus terus dilakukan meski mobil listrik ala "Ferari", Tucuxi, yang dikendarainya mengalami kecelakaan di Desa Ngerong, Kecamatan Plaosan, Magetan, Jatim, Sabtu.

"Mobil listrik harus jalan terus. Beruntung dalam kecelakaan tersebut saya tidak apa-apa," ujar Dahlan Iskan saat berada di Pondok Pesantren PSM, Takeran Magetan.

Menurut dia, kecelakaan yang ia alami saat mengendarai Tucuxi tidak ada hubungannya dengan mesin mobil tersebut yang menggunakan tenaga listrik.

Dahlan menilai, secara umum, kondisi mobil sudah baik. Hanya saja, saat uji coba tersebut, kondisi rem memang sedang blong setelah pemakaian di jalanan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah-Plaosan, Magetan, Jawa Timur, yang sangat curam.

"Saya harus mencobanya dengan mengendarai sendiri sebelum akhirnya saya meyakinkan orang lain dengan mobil tersebut. Meskipun mobil listrik, Tucuxi tetap menggunakan rem yang sama dengan mobil-mobil BBM," katanya.

Dahlan menjelaskan, kondisi rem mobil yang sedang blong tersebut akibat pemakaian remnya yang berlebihan di jalanan yang menanjak dan curam.

"Saat tiba di Plaosan itu rem sudah tidak berfungsi dan mobil menggelinding semakin cepat. Kecepatan saat itu diperkirakan antara 60 hingga 80 Kilometer per jam. Kemudian saya mengambil keputusan menabrakkan mobil ke tebing agar tidak mencelakai orang lain," terangnya.

Beruntung, akibat kecelakaan tersebut ia tidak mengalami luka yang cukup berarti. Saat kejadian Dahlan didampingi oleh salah seorang mekanik mobil listrik bernama Riki yang kondisinya juga selamat.

"Saya tetap bangga dengan mobil listrik ini, karena ini buatan anak negeri," kata Dahlan.

Mobil listrik ala "Ferari", Tucuxi, milik Dahlan Iskan sedang menjalani tes menempuh jalan jarak jauh dari Jakarta menuju Surabaya. Sebelum terperosok di Magetan, mobil tersebut berangkat dari Jalan Kebangkitan Nasional di Solo, Jawa Tengah, menuju Surabaya, Jawa Timur.

Mobil memang rencananya transit di Magetan. Menteri BUMN Dahlan Iskan berencana menghadiri acara keluarganya di Pondok Pesantren PSM Takeran pada Sabtu malam. Setelah itu, mobil akan dibawa melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Tucuxi yang dikemudikan Dahlan Iskan itu senilai sekitar Rp1,5 miliar. Dalam tes jalan jarak jauhnya dari Solo menuju Surabaya, mobil tersebut melintasi Tawangmangu-Magetan dengan medan tanjakan dengan ketinggian sekitar 1.305 meter di atas permukaan air laut.

Tucuxi tersebut rancangan Danet Suryatama yang dikerjakan rumah bengkel modifikasi Kupu Kupu Malam di Yogyakarta pada 2012. Mobil Tucuxi mempunyai kemampuan setara dengan mobil berbahan bakar BBM kapasitas 3.500 cc.

Sumber :  Suara Pembaruan

Kemenperin Dorong Industri Mobil Listrik

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri mobil listrik nasional seperti yang dilakukan PT. GRAIN sebagai salah satu perusahaan nasional yang merintis pembuatan mobil listrik secara komersial.

“Kita mendorong industri seperti ini,” kata Menteri Perindustrian, MS Hidayat, seusai melakukan pertemuan dengan Presiden Direktur PT Great Asia Link (GRAIN) Ravi Desai bersama Komisaris PT.GRAIN J.E. Sendjaja di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (4/1).

Hidayat mengatakan, semakin banyak industri bangun di Tanah Air maka banyak lapangan kerja terserap. Sementara Ravi Desai mengatakan, ketertarikannya memproduksi mobil listrik karena di Indonesia dan negara lain belum banyak dikembangkan.

“Selain itu, hal ini sebagai upaya kami membantu program pemerintah untuk mengurangi anggaran subsidi BBM,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pertemuannya dengan Menperin ini dimaksudkan untuk meminta dukungan Kemenperin agar dapat melakukan uji kelayakan dan kemudahan dalam memperoleh perizinan sehingga bisa segera diproduksi secara massal. PT.GRAIN telah melakukan investasi hingga Rp 100 miliar untuk merealisasikan mobil listrik nasional.

Tahapan investasi akan terus bertambah seiring perkembangan pasar industrinya. “Kami berkomitmen untuk mengembangkan mobil listrik. Mobil ini bisa menjadi alternatif, karena biaya operasionalnya 75 persen lebih hemat dibanding mobil biasa,” ujar Ravi.

Pada Mei 2013, PT. GRAIN direncanakan akan meluncurkan 100 unit mobil listrik dengan merek Elvi yang merupakan akronim dari Electric Vehicle. Empat merek Elvi yang sudah siap dipasarkan, diantaranya yaitu Elvi Ravi untuk jenis APV, Elvi Hevi untuk jenis Pick Up, Elvi Hivi dan Elvi Suvi untuk jenis City Car. “Untuk jenis APV, harga dipasaran nantinya sekitar Rp.130 juta, pick up sekitar Rp75-80 juta, dan city car sekitar Rp170 juta,” kata Ravi.

Pada tahap awal, kapasitas produksi akan mencapai 20.000 per tahun dengan target penyerapan tenaga kerja sebanyak 450 orang. “Kami sudah mulai bekerjasama dengan beberapa SMK di Jawa Timur untuk merekrut tenaga teknisi”.

Ravi mengatakan, saat ini mobil listrik buatan PT.GRAIN menggunakan kandungan produk lokal sebesar 40 persen, dan beberapa komponen memang masih diimpor dari negara lain, seperti Korea dan Jepang. Perusahaan menargetkan kandungan lokal akan terus naik hingga 50 persen dalam lima tahun mendatang.

PT. GRAIN merupakan anak usaha dari PT Bukit Jaya Abadi, perusahaan yang bergerak sebagai pemasok dan penyedia mesin diesel dan struktur besi, dan berkantor pusat di Surabaya.


Sumber :  Suara Pembaruan

Seminar Nasional Optimalisasi Sumber Daya Pemalang

Bupati Pemalang saat memberikan sambutan 
pada seminar nasional di Hotel Regina Pemalang 

PEMALANG - Pelaksanaan otonomi daerah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah, untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai modal untuk memajukan daerah. Oleh karena itu, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, telah berupaya secara maksimal untuk dapat menggali dan memanfaatkan segala potensi sumber daya yang ada, baik potensi alam, potensi budaya maupun potensi-potensi lainnya.

Demikian disampaikan Bupati Pemalang, H. Junaedi, SH,MM dalam Seminar sehari yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) As-Sholeh Pemalang, Sabtu 22 Desember 2012 di Hotel Regina Pemalang.

Bupati mengatakan, bahwa Kabupaten Pemalang memiliki beragam potensi sumber daya yang bisa dikembangkan, baik yang berasal dari sumber daya alam maupun sumber daya buatan. Sumber daya tersebut mencakup kategori dapat diperbaharui (renewable resources), maupun tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources).

Beberapa potensi yang dapat dijadikan komoditas unggulan diantaranya adalah industri textile, tenun dan konveksi - hasil pertanian dan perkebunan - kawasan agropolitan Waliksarimadu yaitu di Watukumpul, Belik, Pulosari, Moga dan Randudongkal). Lima daerah itulah yang dijadikan sentra produksi sayur-sayuran terbesar di Kabupaten Pemalang - Obyek wisata serta perikanan tangkap dan budidaya.

Berkaitan dengan itu, pemerintah kabupaten Pemalang telah mengeluarkan kebijakan umum jangka menengah daerah yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten pemalang tahun 2011 - 2016, yaitu peningkatan investasi, pengoptimalan pengelolaan sumber sumber daya alam dan lingkungan hidup, penguatan fasilitasi dan kelembagaan koperasi, UMKM, serta industri kecil dan menengah, peningkatan pengelolaan potensi pertanian dan perikanan dn peningkatan infrastruktur wilayah yang berkualitas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Seminar yang menghadirkan lima pembicara dari Semarang dan Jakarta itu, mengambil tema: "Optimalisasi Potensi Sumber Daya Pemalang dalam Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) di Era Globalisasi", diikuti oleh masyarakat umum, pegawai di lingkungan Kabupaten Pemalang dan mahasiswa.

Sumber :  Pantura News

Ancaman Deindustrialisasi dan Gelombang PHK



Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) mengancam sejumlah industri padat karya karena kenaikan standar upah buruh yang signifikan di berbagai daerah di Indonesia. Dua industri padat karya itu antara lain sektor tekstil dan produk tekstil serta alas kaki.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan akan ada ribuan karyawan terkena PHK. “Garmen kita pasti akan relokasi. Tekstil akan melakukan pengurangan pekerja,” ungkap Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy kepada pers.

Dia menambahkan, asosiasi menolak keras penetapan upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta sebesar Rp 2,2 juta termasuk UMP daerah sekitarnya. “Pemberlakuan upah ini jelas akan mematikan industri padat karya. Beberapa perusahaan tekstil sudah siap untuk merumahkan ribuan karyawan karena ketidaksanggupan membayar upah sebesar Rp 2,2 juta per bulan,” ujar Emovian.

Dia mengonfirmasikan bahwa sejumlah perusahaan akan mengurangi karyawan. “Kami sudah bicara dengan beberapa perusahaan asing. Kata mereka, kurang lebih 100.000 orang akan dikurangi. Yang sudah pasti, ada perusahaan mengurangi 1.000 orang dan 600 orang. Itu sudah pasti,” ujarnya.

Menurut dia, industri padat karya selama ini mengais keuntungan yang kecil. “Pemesanan memang besar tapi marginnya kecil. Kami bayar pakai apa?” kata dia seraya menambahkan bahwa kondisi ini akan diperburuk oleh kenaikan tailf tenaga listrik dan gas.

Namun ketika di konfirmasi lebih lanjut, Ernovian enggan menyebutkan nama perusahaan yang akan mengurangi jumlah karyawannya. Menurut dia, pengurangan karyawan ditetapkan berdasarkan jabatan kerjanya masing-masing. “Karyawan di cleaning service, security, itu mulai tuh pengurangan. Kalau operator, itu yang terakhir. Dua belas mesin yang tadinya dioperasikan oleh 2 orang, sekarang 1 orang,” tegasnya.

Sekjen Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Binsar Marpaung mengatakan hal senada. Menurut dia, penetapan UMP ini otornatis akan menurunkan daya tarik investasi ke Indonesia. “Itu akan menjadi patokan investasi Eropa ke Indonesia,” ujarnya.

Aprisindo memperkirakan sekitar 600.000 pekerja di industri sepatu terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) jika rencana penghentian produksi (lock out) secara nasional terjadi. Pilihan penghentian produksi terjadi karena selama ini iklim usaha tidak kondusif menyusul tidak adanya jaminan keamanan dan kepastian hukum dari pemerintah.

“Beberapa pabrik sepatu sudah tutup karena kondisi tidak kondusif. Di industri persepatuan ini jumlah total karyawannya 600.000 orang, dan itu terancam pemutusan hubungan kerja jika lock out nasional terjadi,” kata Binsar Marpaung, Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia.

Penghentian produksi secara nasional merupakan respons dari sejumlah asosiasi industri menyusul gangguan aksi buruh yang cenderung anarkis dan memblokir akses di kawasan industri. “Kami sulit memenuhi tuntutan buruh karena industri sepatu berproduksi dengan volume tinggi, tetapi marginnya tipis,” ujarnya.

Selain tekstil dan alas kaki, industri baja juga sedang dirundung masalah. Sekitar 50 produsen baja nasional terpaksa menurunkan produksi minimnya pasokan bahan baku, yang mengakibatkan pelaku usaha baja mengurangi jumlah pekerja sementara. Kondisi kelangkaan bahan baku yang sudah mengkhawatirkan ini berpotensi membuat sektor industri baja mengalami deindustrialisasi (penurunan kinerja industri secara kontinyu) jika tidak segera diatasi.

“Semenjak Januari 2012 sampai 4 Juli 2012, tercatat 7.000 kontainer berisi scrap (baja kasar) ditahan oleh pihak bea cukai di sejumlah pelabuhan seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak,” kata Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Edward R Pinem.

Menurut dia, 7.000 kontainer bahan baku itu setara 140.000 ton bahan baku scrap yang dibutuhkan sekitar 50 produsen baja nasional. “Saat ini ada beberapa industri baja yang sudah mengistirahatkan pegawainya karena tidak bisa berproduksi dan ada beberapa produsen merumahkan karyawan sambil mengumpulkan scrap dalam negeri untuk bisa produksi,” katanya.

Berdasarkan data IISIA, perusahaan baja yang sudah melakukan perumahan karyawan antara lain PT Toyogiri, PT Inteworld Steel, PT Dwi Jaya, PT Pangeran Murni, PT Cakra Steel, PT Ispatindo, PT Alimindo, dan PT Hanil Jaya. Langkah perumahan karyawan sampai saat ini berjumlah sekitar 450 pekerja.

Sementara perusahaan baja yang menurunkan produksi adalah PT Citra Baru Steel, PT Growth Sumatra, PT Growth Asia, PT Asian Izusu, PT Inti General, PT Indo Baja, PT Jakarta Cakra, PT Jakarta Sentral, PT Lautan Steel, PT Pangeran Karang Murni, PT Gunung Garuda, PT Inter World Steel, PT Hanil Jaya Steel, PT Ispat Indo, PT Huwalin, PT Bangun Sarana Baja, dan PT Gunung Gahapi.

Edward menilai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang lingkungan hidup menyebabkan banyaknya kontainer ditahan. “Selama ini, impor scrap sudah lolos administrasi dan melibatkan surveyor, apalagi impor scrap itu sudah berlangsung lama sejak 30-40 tahun yang lalu,” ujarnya.

Edward menuturkan, di Indonesia, sangat susah untuk mencari bahan baku baja seperti scrap dan hal tersebut membuat sektor industri baja tidak memiliki daya saing. “Selama ini, pasokan scrap dari dalam negeri hanya 30% dan 70% dipenuhi dari impor dari total bahan baku sebanyak 6-7 juta ton. Namun, pada 2005 lahir Undang-Undang Lingkungan Hidup tentang ketentuan bahan baku baja dan pelaku usaha industri baja sudah melakukan importasi scrap sesuai ketentuan pemerintah,” paparnya.

Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, selama ini bahan baku produk baja berasal dari pig iron, sponge iron, maupun scrap yang sebagian besar masih diimpor.

“Utilisasi sumber daya mineral logam bijih besi masih minim, apabila ekspor bijih besi tidak dikendalikan, maka akan habis dalam waktu dekat. Selain itu, perlambatan pertumbuhan industri logam seperti baja disebabkan 70% bahan baku seperti scrap masih tergantung impor serta meningkatnya harga bahan baku akibat prosedur importasi scrap yang memakan waktu lama,” ujarnya.

Panggah menyatakan penahanan 113 kontainer berisi scrap milik PT Hwa Hok Steel yang diindikasi terkontaminasi limbah B3 berdampak kepada kontainer produsen di seluruh pelabuhan yang mencapai 7.000 kontainer.

“Penahanan kontainer berisi scrap mengakibatkan harga scrap naik 100% menjadi US$ 800 per ton dibandingkan sebelum penahanan yang mencapai US$ 400 per ton dan mengganggu ketersediaan bahan baku terhadap 132 perusahaan peleburan industri logam dalam negeri dan satu perusahaan telah berhenti produksi,” ucapnya.

Duniaindustri.com menilai dengan berbagai masalah dan hambatan, bukan tidak mungkin tidak sektor industri (tekstil, alas kaki, dan baja) menghadapi ancaman deindustrialisasi.

(***)

Sumber :  Dunia Industri

Peserta Terbaik Diklat Sistem Industri II

BDI Regional IV Yogyakarta telah selesai menyelenggarakan Diklat Sistem Industri II. Diklat ini ditujukan bagi Pejabat Eselon IV di Dinas Perindustrian Provinsi/Kabupaten/Kota di DIY, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sebanyak 25 peserta mengikuti diklat ini sejak tanggal 2 Juli sampai tanggal 14 Juli kemarin.  


Diklat diampu langsung oleh dosen Prodi Teknik Industri Institut Teknologi Bandung dan pengajar dari Kementerian Perindustrian. Selama diklat peserta tidak hanya berkegiatan di dalam kelas saja, namun juga diajak untuk melihat langsung bagaimana kondisi IKM serta menganalisis perbaikan yang dapat diterapkan. 




Hasilnya dipresentasikan langsung dihadapan dosen pengajar dan pemilik IKM yang bersangkutan sehingga didapatkan hasil yang benar-benar objektif dan peserta diklat mampu mengasah kemampuannya dalam mendiagnosis permasalahan di IKM dengan tepat.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan terhadap nilai pre & post test, nilai ujian komprehensif, nilai ujian presentasi dan nilai disiplin kehadiran, maka sebanyak 25 peserta Diklat Sistem Industri II dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat. 

Pada acara penutupan tanggal 14 Juli 2012, disampaikan oleh Kepala BDI bahwa harapannya diklat ini mampu memberi perubahan ke arah yang lebih baik dalam tugas peserta sebagai pendamping tumbuh kembang IKM di daerah masing-masing. Pada acara ini disampaikan pula evaluasi terhadap peserta diklat, dimana terpilih 3 peserta terbaik yaitu :

1) Louis Krismanto, ST (Dinas Perindagkop Kabupaten Banyumas),
2) Ani Dwiatmi Yulianingsih (Dinas Koperindag Kabupaten Pemalang),
3) Ratih Puspa Reny, SH (Dinas Perinkop dan UMKM Kabupaten Magelang)



20 Pembatik Pelatihan Mutu dan Teknik Pewarnaan

PEMALANG - Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan Sumber Daya Manusia, IKM Batik tulis Dinkoperindag Pemalang bekerjasama dengan Disperindag Propinsi Jawa Tengah menyelenggarakan pelatihan mutu dan teknik pewarnaan batik tulis di Winner Premier Hotel, Selasa (17/4) kemarin. Tujuan kegiatan yang melibatkan 20 orang dari IKM batik ini untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan SDM IKM batik tulis dalam teknik pewarnaan sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan berdaya saing.

Kepala Disperindag provinsi Jawa Tengah, Ir Ihwan Sudrajat MM melalui Kepala Diskoperindag Kabupaten Pemalang, Tri Setyawati SIP MSI menuturkan bahwa batik merupakan produk kerajinan yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi bangsa Indonesia. Keberadaanya mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis karena mendorong perekonomian daerah dan mampu melestarikan budaya daerah.  “Serta keberadaannya mampu menyerap banyak tenaga kerja,” ujarnya.

Menurutnya batik saat ini telah berkembang menjadi komoditas budaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan menjadi pakaian bangsa Indonesia . Bahkan telah menembus pasar ekspor seperti Asia , Eropa dan Amerika.  “Sentra batik di Indonesia makin didominasi dan terpusat di pulau jawa, khususnya propinsi Jawa tengah,” katanya.

Produk batik mempunyai prospek yang baik kedepan karena ditunjang kualitas SDM yang cukup bisa diandalkan baik teknis proses produksi maupun penguasaan teknologi pembatikan. Disamping itu menurutnya pasar dalam negeri cukup menjanjikan dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa.  “Selain itu pasar ekspor juga sangat terbuka, namun demikian dibutuhkan peningkatan promosi baik kedalam maupun keluar negeri dan perhatian terhadap desain motif agar sesuai dengan selera pasar,” katanya.

Dalam acara ini, sebagai pembicara berasal dari balai kerajinan dan batik Yogyakarta yang akan menyampaikan pengetahuan tentang mutu bati, komposisi zat warna untuk batik dan pembuatan desain motif batik yang baru trend.

Sumber : Radar Tegal

Sosialisasi Garam Beriodium

PERLU hati-hati masyarakat dalam memilih merk garam yang terjual bebas  di pasaran. Pilihlah garam yang memenuhi syarat kandungan iodiumnya sesuai standar nasional yaitu di atas 30 PPM hingga 80 PPM. Jika tidak, masyarakat akan tertipu dengan banyaknya merk garam tersebut yang kebanyakan kandungan iodiumnya di bawah 30 PPM.

Hal itu disampaikan Kepala Diskoperindag Kabupaten Pemalang Tri Setyawati SIP MSi dalam acara sosialisasi garam beriodium di Pasar, baru-baru ini.

Menurut dia,  ada 23 garam yang beredar di pasaran dan setelah melalui uji tes kadar iodiumnya hanya ada  6 merk garam yang telah memenuhi syarat. Salah satu di antaranya yang memenuhi standar adalah garam merk Murni produksi pabrik garam milik PKK Kabupaten Pemalang dengan kandungan iodium diatas 30 sampai 80 PPM.

“Kita perlu hati-hati dalam mengkonsumsi garam yang ada di pasar dan dalam memilih garam jangan hanya asin  dan harganya murah tapi pilihlah garam yang kandungan iodiumnya sesuai standar nasional,” katanya.

Sementara Ketua Tim Penggerak PPK Kabupaten Pemalang Hajjah Irna Junaedi mengatakan. garam beriodium merk Murni ini memiliki kadar iondium sesuai standar nasional yaitu 50,58 PPM, di atas garam-garam merk lain yang dijual di pasar-pasar. Hal itu berdasarkan hasil uji tes kadar iodium yang telah dilakukan dan disaksikan oleh masyarakat. 

Untuk merk lain kadar iodiumnya hanya 8 PPM bahkan ada juga yang hanya 15,27 PPM. Padahal sesuai standar itu antara 30 hingga 80 PPM. Maka dari itu warga dihimbau untuk menggunakan garam merk Murni, yang harganya tidak beda jauh dengan merk garam lain.

“Kurangnya kandungan ioudium pada garam tentunya akan berakibat pada kesehatan pada tubuh yaitu akan menyebabkan terkena penyakit gondok . Makanya warga jangan sampai terpengaruh dengan garam harga murah,” imbuhnya.

Jika warga masih menggunakan garam yang tidak beriodium dan hanya karena harga murah maka akan mempertaruhkan kesehatan anggota keluarganya. Oleh karena itu dengan kegiatan sosialisasi garam beriodium ini sebagai salah satu bentuk dan wujud untuk menciptakan Pemalang yang sehat sesuai visi misi Kabupaten Pemalang yaitu Pemalang  yang sehat, cerdas, berdaya saing dan berakhlak mulia.

Sumber :  Radar Tegal

Metode OVOP Kemenperin Tiru Jepang & Thailand




JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengembangkan metode One Village One Product (OVOP) di Indonesia. Hal itu merupakan salah satu langkah untuk meniru Jepang dan Thailand dalam menggenjot industri kreatifnya.

Seperti dikutip dalam majalah Gema Industri Kecil yang diterbitkan Kemenperin, metode ini dirancang berdasarkan potensi bahan baku yang ada di tiap daerah. Sehingga setiap daerah memiliki produk unggulan yang ada di setiap daerah. Pemerintah akan membantu menyediakan SDM dan peralatan produksi yang dibutuhkan dalam menciptakan bisnis dan membantu pemasaran.

“Selain itu, kami juga terpikir untuk meningkatkan industri kreatif dengan beberapa cara seperti pendirian kota kreatif, memberikan creative award bagi penyelenggara industri kreatif di Indonesia. Kami juga ingin menyelenggarakan Pekan produk Kreatif Daerah, agar potensi tiap daerah benar-benar terlihat, tidak hanya di satu sektor,” ujar Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah kepada okezone, di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu petang (10/7/2011).

Karena itu juga, menurutnya memberikan intensif nonfiskal bagi perkembangan industri kreatif juga tidak kalah pentingnya. “Dukungan nonfiskal berupa pengembangan capacity building seperti bagaimana memperoleh  Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karena mereka banyak yang belum mengerti benar bagaimana memperolehnya,” lanjutnya.

Jika hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, dia sangat optimistis pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia akan tumbuh baik, target Kemenperin di 2014 sendiri adalah meningkatkan penerimaan PDB dari sektor industri kreatif bisa tumbuh dua hingga empat persen per tahun. “Sektor-sektor industri kreatif andalan seperti fashion, tenun, desain dan IT, akan menjadi tumpuan dalam pertumbuhannya,” paparnya.

Seperti diketahui, gelaran PPKI yang diprakarsai oleh 14 Kementerian di bawah Kemenkokesra ditutup Minggu kemarin. Dari laporan yang dibacakan Dirjen IKM, ada sekira 65 ribu pengunjung menghadiri acara ini dengan total transaksi mencapai lebih dari Rp35 miliar. Industri kreatif di Indonesia terdiri dari 13 subsektor industri seperti fashion, tenun, desain, makanan, IT dan lainnya.

 Sumber : Oke Zone

Pabrik Garam "Murni" Genjot Penjualan


PEMALANG – Permintaan garam beryodium hasil olahan Pabrik Garam Beryodium "Murni” binaan TP PKK Kabupaten Pemalang semakin meningkat. Indikasinya, produk tersebut sudah banyak dijumpai di pasar-pasar .

Meski begitu pihak manajemen terus berusaha meningkatkan penjualannya walaupun mengalami kendala pada pemasaran dan distribusi.

Proses pemasaran garam mengalami ketersendatan pengiriman. Padahal pabrik tersebut baru saja melewati masa uji coba produksi tiga bulan lalu, sehingga penjualannya terus digenjot untuk meraih pangsa pasar. Kapasitas produksinya saat ini sudah mencapai 2 ton per hari.

Penanggungjawab perusahaan, Sumartono, menuturkan, kondisi perusahaannya masih tetap berjalan dan proses produksi juga terus dilakukan meskipun masih banyak kendala yang dihadapi.

Sumartono menambahkan, upaya pembenahan selalu dilakukan guna meningkatkan produksi dan perluasan pasar. Kondisi perusahan yang masih mengalami keterbatasan, terutama keterbatasan karyawan pemasaran dan angkutan untuk distribusi, merupakan salah satu kendala yang dihadapi.

"Pola kerja karyawan di perusahaan ini selain memproduksi juga ikut membantu pemasaran, mengingat keterbatasan tenaga yang ada. Sehingga penghentian proses produksi bukan karena akibat produksi yang menumpuk dan kekurangan bahan baku," kata dia di sela-sela kesibukannya saat melakukan pengiriman garam ke pasar, Selasa (27/10) lalu.

Lebih lanjut Sumartono mengatakan, hasil produksinya kini banyak menumpuk lantaran mengalami kendala seperti armada distribusi yang 'kurang sehat' dan tenaga pemasaran jumlahnya belum memadai, sehingga pengiriman barang tersendat.

Stok garam yang ada sekarang kurang lebih 25 ton dan siap untuk dipasarkan. Daerah jangkauan pemasaran garam "Murni" sendiri sudah cukup luas, meliputi pasar-pasar yang ada di pantura mulai Pasar Pagi Pemalang, Petarukan, Comal hingga Pasar Ulujami. Sedangkan untuk daerah selatan garam ini dapat dijumpai antara lain di Pasar Moga, Pulosari termasuk di Pasar Gombong Belik.

Sumber :  Pemalang Post



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Diskoperindag Pemalang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger